Categories
Berita

Energy Indonesia Melimpah, Kenapa Harus Mahal ?

Oleh : DR.Etty Susilowati, SE. MM

Direktur Utama PT Jasa Tirta Energi

Akuratnews.com – Satu dua bulan yang lalu, masyarakat digemparkan dengan tagihan listrik yang cukup signifikan. Bagaimana tidak ? Tagihan yang harus dibayarkan oleh para pelanggan nilainya cukup pantastis. Kenaikan yang terjadi bisa mencapai puluhan juta rupiah bagi setiap pelanggan. Menjadi tanda Tanya besar di tengah melimpahnya energy alam yang dimiliki oleh Indonesia, harus dibayar mahal oleh masyarakatnya sendiri. Dari Sabang sampai Merauke, Tuhan Yang Maha Esa, telah memberikan Indonesia beragam kebutuhan yang ada di Alam.

Alih-alih merugi hingga triliunan rupiah, Covid-19 menjadi sasaran atas meruginya PLN yang diketahui menjadi salah satu penyedia energy yang dipahami sebagai energy listrik oleh masyarakat luas. Tak tanggung-tanggung kerugian yang diklaim oleh PLN, sekitar Rp 38 Triliun PLN harus menanggung kerugian, hal ini diungkapkan saat rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI beberapa waktu yang lalu.

Luasnya potensi energy di Nusantara seharusnya energy bukanlah menjadi permasalahan yang rumit. Penampakan permukaan alam Indonesia yang terdiri diri perairan dan daratan berbanding antara 4:1. Penampakan daratan berupa gunung tertinggi, sungai terpanjang di Indonesia, danau membuat Indonesia menjadi negara ke 15 terluas di dunia. Indonesia termasuk negara kepulauan yang berada pada posisi strategis yang digambarkan dari letak geografis dan letak astronomis Indonesia.

Robert Kaplan menuturkan bahwa geografi secara luas akan menjadi determinan yang mempengaruhi berbagai peristiwa lebih dari pada yang pernah terjadi sebelumnya (Foreign Policy, May/June, 09). Di masa yang akan datang, keberadaan Indonesia akan dipengaruhi oleh kondisi dan letak geografisnya. Maka tata kelola sumber daya alam, wilayah perbatasan dan pertahanan yang mumpuni sangat diperlukan.

Dengan beragamnya Sumber daya alam yang ada, seperti Sungai, Laut, Angin dan Matahari, Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk mengembangkan sektor energy khususnya bagi masyarakatnya sendiri. Bahkan, Kalimantan yang digadang-gadang sebagai ibukota baru memiliki potensi energy yang cukup besar. Pulau Kalimantan memiliki luas 743.330 km², dengan titik koordinat 4° 24` LU – 4° 10` LS dan antara 108° 30` BT – 119° 00` BT. Dimana keadaan alamnya meliputi Laut, Pantai Biduk-Biduk, Pantai Angsana, Pantai Melawai, Pantai Benua Putra dan pantai Pantai Lamaru, dilengkapi oleh sungai-sungai antara lain, Sungai Mahakam, Sungai Barito, Sungai Kapuas, Sungai Melawi, dan Sungai Arut.

Indonesia memiliki Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar diantaranya, mini/micro hydro sebesar 450 MW, Biomass 50 GW, energi surya 4,80 kWh/m2/hari, energi angin 3-6 m/det dan energi nuklir 3 GW. Di mana, saat ini pengembangan EBT mengacu kepada Perpres No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Dalam Perpres disebutkan kontribusi EBT dalam bauran energi primer nasional pada tahun 2025 adalah sebesar 17% dengan komposisi Bahan Bakar Nabati sebesar 5%, Panas Bumi 5%, Biomasa, Nuklir, Air, Surya, dan Angin 5%, serta batubara yang dicairkan sebesar 2%. Untuk itu langkah-langkah yang akan diambil Pemerintah adalah menambah kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Mikro Hidro menjadi 2,846 MW pada tahun 2025, kapasitas terpasang Biomasa 180 MW pada tahun 2020, kapasitas terpasang angin (PLT Bayu) sebesar 0,97 GW pada tahun 2025, surya 0,87 GW pada tahun 2024, dan nuklir 4,2 GW pada tahun 2024.

Demi mendayagunakan energy yang dimiliki oleh alam Indonesia, tentu saja kerjasama dapat dilakukan dengan Pemerintah Daerah untuk mempermudah tanggung jawab pengelolaannya. Bagi pemerintah daerah keuntungan yang dapat dikelola dan bisa dikembangkan antara lain, Biomasa, Energi Angin, Energi Surya, Energi Nuklir dan Mikrohidro.

Dapat dibayangkan Total investasi yang diserap pengembangan EBT sampai tahun 2025 diproyeksikan sebesar 13,197 juta USD. Dimana, Keuntungan Energi Baru Terbarukan ini adalah Ramah lingkungan, Investigasi teknologi, Mudah dikembangkan, Mengurangi sampah dan yang lebih penting akan meningkatkan peluang tenaga kerja baru, tentu saja hal ini akan sangat berdampak khususnya daerah-daerah berkembang.

Namun, bukan tanpa kendala, penerapan energy terbarukan terbentur kepada regulasi yang dinilai kerap berubah-ubah menjadi tantangan pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia. Padahal, jika kita ingin tilik lebih dalam memiliki keuntungan yang cukup banyak, khususnya bagi Pemerintah Daerah yaitu : Meningkatkan perkenomian daerah, Meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan Meningkatkan akses energi kepada masyarakat langsung.

Pemerintah terus berupaya melaksanakan percepatan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) agar dapat mencapai target 23% energi baru terbarukan (EBT) pada bauran energi nasional tahun 2025 sebagaimana amanat Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

Strategi percepatan pengembangan EBT untuk mencapai target ambisius pada tahun 2025 yang dilakukan pemerintah, yaitu:

  • Mendorong peningkatan kapasitas unit-unit PLT EBT yang sudah ada dan proyek EBTKE yang sedang berjalan sesuai RUPTL.
  • Upaya penciptaan pasar EBT. Untuk pengembangan panas bumi, diupayakan pengembangan Flores GEothermal Island, sinergi BUMN untuk percepatan pengembangan panas bumi di Wilayah Kerja BUMN, dan pengembangan klaster ekonomi berbasis sumber daya setempat dengan pembangkit listrik. Untuk pengembangan PLTA, diupayakan pengembangan proyek PLTA/M/MH utuk klaster industri mineral dan pengembangan PLTMH melalui pemanfaatan berbagai bendungan.

Sementara itu, untuk pengembangan PLTS dilakukan sinergi BUMN dan pembangunan daerah, pengembangan klaster PLTS/PLT Hybrid untuk ekonomi berbasis sumber daya setempat, pengembangan green dan smart commercial building, pengembangan. PLTS di lahan-lahan pertanian dan perikanan, serta pengembangan ecotourism. Untuk pengembangan BBN, dilaksanakan Mandatori B20 dan B30 serta pengembangan Green Biofuel baik Pertamina maupun non Pertamina. Untuk pengembangan bioenergi, berbagai upaya penciptaan pasar yang dilaksanakan Pemerintah, antaralain:

  1. Melakukan konversi PLTD eksisting menjadi PLTBn CPO;
  2. Mendorong pembangkit Captive Power untuk menjual kelebihan listrik pada PT. PLN (persero) dengan skema Excess Power;
  3. Melakukan Co-firing dengan pelet Biomassa pada exsisting PLTU;
  4. Pengembangan PLT Biomassa skala kecil untuk Wilayah Indonesia Timur secara masif;
  5. Pengembangan hutan tanaman energi dan pemanfaatan lahan-lahan sub optimal untuk biomassa melalui kerjasama dengan KLHK, K/L terkait dan Pemda; dan
  6. Mendorong penggunaan limbah agro industri untuk pembangkit listrik;
  7. Mendorong pengembangan PLTSa.

Saat ini Pemerintah dan para pelaku di tanah air memiliki kendala yang perlu dipecahkan bersama dalam  pengembangan EBT di Indonesia. Pertama, kendala yang dihadapi factor lahan, karena sumber energy baru membutuhkan tempat yang luas, kesulitan akses pada teknologi, harga keekonomian di tambah regulasi yang berubah-ubah. Di Indonesia kebutuhan energy masih harus dikembangkan karena ada beberapa daerah yang belum tersuplai energy seperti energy listrik. Untuk itu, PT. JTE berharap bisa ikut serta dalam meningkatkan energy khususnya di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT).

Categories
Berita

Pentingnya Data Akurat di Tengah Pandemi Covid-19

Jakarta, Akuratnews.com – Menjadi tanda tanya besar terkait kebijakan bantuan sosial (bansos) di tengah pandemi corona (Covid-19) yang saat ini melanda tanah air. Dari sekian data yang ada, terlihat data yang dimiliki pemerintah jauh dari validitas yang seharusnya menjadi salah satu rujukan sebuah kebijakan yang akan diambil, baik itu terkait dengan bansos berupa bantuan bahan pokok, ataupun kebijakan ekonomi masyarakat.

Hingga saat ini banyak pertanyaan besar di masyarakat data apa yang digunakan oleh pemerintah dalam merealisasikan kebijakan Bansos di tanah air. Hiruk pikuk Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di canangkan, nilai bantuan digembar gemborkan, nyatanya penerima Bansos di lapangan jauh dari kata valid dan sesuai.

Menanggapi isu data yang carut marut di lapangan terkait penerimaan Bansos, Pemerhati Masyarakat yang juga Pendidik, Dr.Etty Susilowati melihat, ada pendataan yang kurang valid, bahkan cenderung terjadi misdata antara pusat dan daerah, jika dilihat dari kondisi yang terjadi di tengah pandemi Covid-19.

“Data merupakan hal yang sangat penting bagi sebuah perusahaan terlebih pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Data akan menjadi bagian dalam mengambil keputusan. Garbage in Garbage Out (GIGO). Sudah banyak contoh, bagaimana data menjadi penting dalam sebuah keputusan, misalnya pembagian dalam baksos,” ujarnya saat dihubungi, (11/5).

Dalam hirarkinya, Dia mengungkapkan bagaimana pengumpulan data harus dilakukan secara berjenjang, dari tingkat pengumpul data hingga pengambil keputusan. Hal ini dilakukan dalam rangka validitas data.

“Terkait dengan data yang saat ini terjadi, antara pemeringah daerah dan Pemerintah Pusat, terlihat egois sektoral yang muncul. Untuk itu solusi tepat yang harus diambil untuk mendapatkan validitas data melalui tahapan berjenjang mulai dari tingkat RT, RW dan seterusnya,” terang wanita yang juga merupakan penggiat pendataan secara independen.

Guna mendapatkan data yang valid, ada strategi yang mesti dilakukan, yakni pemberdayaan mulai dari bawah tingkat RT, RW kemudian divalidasi untuk melakukan site visit hingga tingkat Kelurahan.

“Tingkatan yang di atas bertanggung jawab memvalidasi yang di bawahnya. Misal RW wajib memvalidasi data di tingkat RT. Terpenting dengan kondisi saat ini, pendataan mesti dilakukan dalam waktu harian,” pungkasnya

Categories
Berita

Energi di Tengah Kondisi Darurat COVID-19

Indonesia sebagai negara besar sedang dirundung duka mendalam di tengah wabah corona (COVID-19) yang telah melalap sendi-sendi perekonomian dan kehidupan. Untuk itu, masyarakat Indonesia harus survive dalam melawan wabah Corona agar dapat melewatinya dengan selamat.

Di tengah kondisi perlawanan ini, tentu tidak melupakan kebutuhan penunjang dalam menghadapi itu semua. Salah satunya adalah sektor energi, di mana sektor ini masuk dalam 8 sektor yang tidak ditutup di tengah kondisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta dan beberapa kota besar lainnya.

Sektor energi menjadi salah satu tumpuan di tengah kondisi bencana wabah COVID-19 yang kini tengah menciptakan carutmarut, hingga merambat bidang ekonomi dan sektor-sektor lainnya. Sektor energi, menjadi salah satu industri yang terus berjalan, di saat sektor-sektor bisnis lain harus berhenti berkegiatan secara terbuka. Yakni dengan mematuhi PSBB yang diterapkan Pemerintah DKI Jakarta.

Direktur Utama PT Jasa Tirta Energi, Dr. Etty Susilowati, menjelaskan, protokol penanganan penyebaran COVID-19 yang telah ditetapkan oleh pemerintah, salah satunya adalah penerapan PSBB ini harus diimbangi dengan kebijakan pemerintah dalam bentuk dukungan kepada masyarakat agar dapat tetap melaksanakan aktivitas dan menjalani kehidupan di lingkungan rumah. Antara lain dukungan terhadap pemenuhan pangan, energi, telekomunikasi, fasilitas kesehatan dan pendidikan.

“Hampir seluruh kegiatan manusia saat ini tidak terlepas dari energi, baik secara langsung maupun dalam bentuk hasil dari konversi energi, sehingga sektor energi perlu menjadi prioritas bagi pemerintah untuk menjaga, mengelola dengan baik dan meningkatkannya,” jelasnya melalui pesan daring.

Lebih jauh, dia menjelaskan dari sisi hulu, pihaknya melihat bahwa industri sangat tergantung dengan pasokan energi untuk mendukung kegiatan produksi dan aktifitas industri. Di sisi hilir, seluruh konsumen dapat merasakan hasil dari proses di hulu dengan baik berkat dukungan energi yang baik dan stabil. Tanpa adanya jaminan pasokan energi yang baik.

“Proses dan aktivitas industri akan terhambat, pasokan ke konsumen tertunda bahkan tidak ada sama sekali. Hal tersebut membuat masyarakat resah dan berimbas pada kondisi keamanan yg tidak baik,” ungkapnya. Sektor apa yang saat ini sangat dibutuhkan? Mulai dari sektor pertanian dan industri, sektor energi, sektor telekomunikasi dan sektor transportasi.

Etty mengungkapkan,bagaimana peran perusahaannya dalam ikut memberikan pasokan energi tentunya dengan mengoptimalkan kinerja dengan mengelola pembangkit listrik yang dikelolanya. “Tentunya dengan mengoptimalkan kinerja dan keandalan pembangkit listrik yang kami kelola untuk membantu pemenuhan kebutuhan energi kepada masyarakat. Mengembangkan potensi energi secara berkesinambungan untuk mendukung ketahanan energi di Indonesia,” papar dia.

Secara umum, masih kata wanita yang akrab dipanggil Bunda Etty ini, seluruh wilayah di Tanah Air sangat membutuhkan energi, agar penyebaran pandemi CIVID-19 tidak menyebar.

“Ada beberapa hal yang perlu diambil oleh pemerintah, antara lain, kebijakan penerapan PSBB diimbangi dengan dukungan pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Kebijakan pemerintah dalam penyediaan barang dan pasokan energi yang stabil dan merata dan Jaminan keamanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Untuk itu, Etty berharap bencana ini segera berlalu agar kehidupan masyarakat kembali normal. Kebijakan pemerintah di sektor energi amat berarti untuk berjalannya roda karya di sektor ini. “Kami ingib agar mendapatkan kemudahan dalam hal proses pengembangan energi baru terbarukan. Kemudahan dalam proses perizinan untuk pengembangan energi baru terbarukan juga tak boleh disepelekan,” ujarnya.

Mendapat kuota energi dari PT PLN untuk dapat merealisasikan pengembangan energi baru terbarukan di seluruh wilayah Indonesia dan memperoleh harga beli energi baru terbarukan yang baik, juga menjadi harapan Etty bersama para karyawannya dalam ikut membangun bangsa dan negara ini melalui energi di tengah pandemi Corona dan pasca bencana nanti.

www.swa.co.id

Categories
Berita

Kemampuan Perusahaan Lokal Soal EBT Tak Perlu Diragukan, Pemerintah Perlu Mendukung

indopos.co.id – Beberapa waktu lalu Pemerintah Indonesia telah menandatangani akta kesepakatan dengan perusahaan Australia untuk mengembangkan energi terbarukan guna mendukung industri hijau. Kerjasama ini tentu menjadi tanda tanya besar, bagaiamana kamampuan Anak bangsa melalui perusahaan-perusahaan yang ada turut ambil bagian dalam pengembangan energi di tanah air.

Jika menilik keberadaan bidang usaha energi yang ada di tanah air cukup banyak walaupun tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan usaha-usaha retail dan Food and Baveradges. Namun, keberadaan bidang usaha energi tentu membutuhkan kemampuan spesifik dalam mengembangkan potensi yang ada.

Ketergantungan konsumsi negara Indonesia yang tinggi terhadap energi fosil bisa menjerumuskan Indonesia ke jurang defisit energi. Hal ini dikarenakan, pertumbuhan konsumsi energi terutama minyak dan gas tidak diikuti dengan peningkatan produksi sumber energi itu sendiri.

Kini produksi migas nasional justru terus menurun seiring dengan cadangan yang menipis dan minimnya kegiatan eksplorasi. Menurut data Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan terbukti minyak sebesar 3,6 miliar barel dengan tingkat produksi 288 juta barel per tahun diperkirakan habis 12 tahun lagi.Sedangkan cadangan gas sebesar 98 triliun kaki kubik (tcf) akan habis dalam 33 tahun ke depan jika rata-rata produksi tahunan 3 tcf.

Jika melihat dari nilai geografis yang dimiliki Indonesia, dapat ditemui sumber energi terbarukan yang bisa dikembangkan untuk ketahanan energi masa depan. Namun sayangnya, potensi energi ini belum banyak dimanfaatkan. Data menunjukkan, dari total energi terbarukan sebanyak 443.208 megawatt (MW), pemanfaatannya baru 8.216 MW. Padahal pemerintah menargetkan kontribusi energi terbarukan bisa mencapai 23 persen dalam bauran energi primer 2025.

Salah satu energi terbarukan yang layak dikembangkan adalah energi surya. Berdasarkan data dari Dewan Energi Nasional, potensi energi matahari di Indonesia mencapai rata-rata 4,8 kilowatt hour (kwh) per meter persegi per hari, setara 112.000 GWp jika dibandingkan dengan potensi luasan lahan di Indonesia atau sepuluh kali lipat dari potensi Jerman dan Eropa.

Potensi energi matahari di Indonesia mencapai rata-rata 4,8 kilowatt hour (kwh) per meter persegi per hari, setara 112.000 GWp

Namun hingga saat ini, kapasitas yang tersalurkan dari instalasi yang terpasang baru 30 megawatt (MW). Kurang dari satu persen dari total potensi di seluruh Indonesia.

Dengan besarnya rata-rata potensi energi matahari di Indonesia, sudah selayaknya pengembangan pembangkit Iistrik tenaga surya (PLTS) menjadi prioritas. Teknologi PLTS telah mengalami kemajuan yang pesat, eflsiensi panel yang semakin tinggi dan biaya investasi yang semakin murah dapat menjawab tantangan penyediaan energi yang merata di negara kepulauan, Indonesia.

Sebagai perusahaan anak bangsa di bawah bendera Jasa Tirta I, PT Jasa Tirta Energi JTE melihat potensi yang besar ini, dikaitkan dengan kesempatan yang diberikan saat ini baik dari sisi tata aturan hingga kepercayaan kemampuan sangat tertarik untuk berkontribusi dalam mengembangkan EBT.

“Kami telah membangun dan mengembangkan potensi air menjadi PLTM berkapasitas 1,3 MW yang berlokasi di Kab. Blitar Jawa Timur dan bekerja sama dengan PT. PLN, mengembangkan pengadaan EBT,” ujar Direktur Utama JTE Dr. Etty Susilowati, dalam sebuah kesempatan.

Menurut hematnya, ada delapan potensi energi yang bisa dikembangkan terkait dengan energi terbarukan, baik sifatnya di tingkat daerah ataupun tingkat nasional, antara lain, Biofuel, Biomassa, Panas Bumi, Energi Air, Energi Surya, Energi Pasang surut, Energi Ombak, dan Energi Angin.

“Namun, untuk saat ini yang menjadi kendala adalah peraturan regulasi yang berubah-ubah. Padahal jika ditilik kebutuhan EBT di Indonesia masih tergolong besar, dan salah satu keuntungannya adalah tidak menghasilkan limbah yang dapat mengganggu atau mencemari lingkungan sekitar,” ungkapnya.

“Hampir setiap pulau di Indonesia yang membutuhkan pengembangan EBT, seperti Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan,” tambahnya.

Dr. Etty mengatakan, kemampuan teknis dan pengalaman menjadi nilai dalam kepercayaan. Untuk itu, walaupun terbilang baru pihaknya telah mendapat kepercayaan sejumlah pihak dalam pengembangan potensi energi di tanah air.

“Kami telah membangun dan mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) berkapasitas 1,3 MW yang berlokasi di Kab. Blitar Jawa Timur,” imbuhnya.

Untuk itu dirinya menekankan, dengan semakin menipisnya kekayaan alam yang telah digunakan oleh berbagai industri, maka percepatan pengembangan EBT harus segera direalisasikan.

“Kami berharap, dalam mencapai pengembangan potensi EBT di tanah air, peraturan regulasi yang selalu mendukung percepatan pengembangan EBT. Selain itu, tentu dengan merealisasikan target pemerintah terkait pengembangan EBT. Memproduksi komponen dalam negeri, memperkenalkan produk-produk dalam negeri, mensejahterakan bangsa dalam negeri dan mendapatkan porsi yang besar terkait potensi pengadaan EBT,” paparnya. (mdo)

Categories
Berita

Etty Susilowati Jurnal Publikasi Ilmiah

  1. A Student Dormitory as an Educational Supporting Facility
  2. Analisis Kelayakan dan Sensitivitas Studi Kasus Industri Kecil Tempe Kopti
  3. Analisis Strategi Implementasi Media Sosial
  4. Biological Assets as Mudharabah
  5. Electronic Word of Mouth ESENSI
  6. Encouraging a Regional Autonomy in Indonesia
  7. Factors Influence Financial Inclusion
  8. Family Coping Strategies During The Covid-19 Pandemic
  9. Financial Distress Bankruptcy Analysis and Implication for Stock Prices of CGC in Indonesia
  10. Impact of Managerial Roles and Financial Performance on GCG
  11. Improvement_of_PRIMKOPTI_Resilience_Business
  12. Kreatifitas Kewirausahaan Sosial dn Menggali Ide Usaha Baru Melalui Pengolahan Kripik Tampe Lupin
  13. Marketing Mix and Purchasing Behavior
  14. Pengaruh Laba Bersih Arus Kas dan Deviden Tunai
  15. Pengaruh Rasio Kedelai dan Lupin
  16. The Decrease of Production of Indonesian Soybean and Efforts
  17. The Evaluation of Cooperative Role in Soybean – University of Indonesia
  18. The Influence Of Brand Awareness Brand Association- DialNet
Categories
Berita

Foto Kepedulian Spirit 88 Kepada Sang Guru

Jakarta, RuangJurnalis.com – Spirit 88 melakukan pergerakkan dengan melakukan penggalangan dana, pasca mnendatkan informasi terjadinya kebakaran di Pasar Timbul Tomang Jakarta Barat. Kebakaran yang telah menghanguskan ratusan kios dan Rumah Toko (Ruko) di pasar Timbul Tomang Jakarta Barat, jelas telah menyusahkan para korban kebakaran. Di tengah masa sulit akibat pandemi Covid-19, para korban kebakaran harus menanggung kerugian yang tidak sedikit akibat kebakaran yang dinilai akibat dari konsleting tersebut.

Tak dinyana dan diduga, dari sekian ratus korban kebakaran ada Mantan Guru SMP N 88 Jakarta Barat yang menjadi korban. Kejadian ini memanggil kepedulian para alumnus SMP N 88, untuk turut berdonasi demi memperingan penderitaan Sang Guru.

Ketua Umum Spirit 88-84 Dr. Etty Susilowati, mengungkapkan seorang Guru yang bernama Bapak Wakidi bagi murid-muridnya terutama bagi Spirit 88 sudah menjadi orang tua dan sahabat. Bukan lagi hanya sekedar guru yang harus dihormati.

“Pak Wakidi bagi kami adalah guru kami, orang tua kami juga sahabat kami. Dalam keseharian guru kami ini merupakan orang yang bersahaja. Beliau selalu ceria sejak dahulu hingga sekarang di tengah-tengah musibah yang dihadapinya,” ungkapnya saat dihubungi Rabu, (11/8).

Lebih jauh, Wanita yang juga Direktur Utama PT. Jasa Tirta Energi yang merupakan anak usaha Jasa Tirta 1 mengenang, bagaimana seorang Bapak Wakidi menjadi orang yang selalu memberikan nasehat di luar kapasitasnya sebagai seorang guru. Sebagai seorang yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, dirinya tak lepas selalau memberikan ilmu kehidupan kepada murid-muridnya.

“Beliau sering menasehati tentang ilmu kehidupan yang kadang belum sempat tersampaikan saat kami di kelas. Meskipun masa sulit Covid ini, beliau selalu tabah dan tawakal menghadapinya,” kenang Penggagas Spirit 88-84 ini.

Categories
Berita

Guru Mendapat Musibah, Spirit 88 Beserta Lintas Alumni 88 Bergerak

Jakarta, RuangJurnalis.com – Spirit 88 melakukan pergerakkan dengan melakukan penggalangan dana, pasca mnendatkan informasi terjadinya kebakaran di Pasar Timbul Tomang Jakarta Barat. Kebakaran yang telah menghanguskan ratusan kios dan Rumah Toko (Ruko) di pasar Timbul Tomang Jakarta Barat, jelas telah menyusahkan para korban kebakaran. Di tengah masa sulit akibat pandemi Covid-19, para korban kebakaran harus menanggung kerugian yang tidak sedikit akibat kebakaran yang dinilai akibat dari konsleting tersebut.

Tak dinyana dan diduga, dari sekian ratus korban kebakaran ada Mantan Guru SMP N 88 Jakarta Barat yang menjadi korban. Kejadian ini memanggil kepedulian para alumnus SMP N 88, untuk turut berdonasi demi memperingan penderitaan Sang Guru.

Ketua Umum Spirit 88-84 Dr. Etty Susilowati, mengungkapkan seorang Guru yang bernama Bapak Wakidi bagi murid-muridnya terutama bagi Spirit 88 sudah menjadi orang tua dan sahabat. Bukan lagi hanya sekedar guru yang harus dihormati.

“Pak Wakidi bagi kami adalah guru kami, orang tua kami juga sahabat kami. Dalam keseharian guru kami ini merupakan orang yang bersahaja. Beliau selalu ceria sejak dahulu hingga sekarang di tengah-tengah musibah yang dihadapinya,” ungkapnya saat dihubungi Rabu, (11/8).

Lebih jauh, Wanita yang juga Direktur Utama PT. Jasa Tirta Energi yang merupakan anak usaha Jasa Tirta 1 mengenang, bagaimana seorang Bapak Wakidi menjadi orang yang selalu memberikan nasehat di luar kapasitasnya sebagai seorang guru. Sebagai seorang yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, dirinya tak lepas selalau memberikan ilmu kehidupan kepada murid-muridnya.

“Beliau sering menasehati tentang ilmu kehidupan yang kadang belum sempat tersampaikan saat kami di kelas. Meskipun masa sulit Covid ini, beliau selalu tabah dan tawakal menghadapinya,” kenang Penggagas Spirit 88-84 ini.

Sementara itu, Ketua Harian Spirit 88-84 Isworo menjelaskan, Spirit 88-84 dibangun atas dasar kepedulian sesama Keluarga Besar SMP N 88. Berawal karena grade sekolah yang menurun drastis, akhirnya Spirit 88 dibentuk sekaligus untuk membangunkan marwah kepedulian para anggota dan Keluarga Besar SMP N 88.

“Tujuan selain menyambung silaturhami juga untuk membantu teman-teman yang ada kesulitan, kesusahan, maupun keduakaan. Selain itu kita juga mengadakan acara social sejak dibentuk pada bulan November 2017. Awal kita menyelenggarakan acara Khitanan massal. Kita juga menyantuni temen-teman yang mengalami kesulitan ekonomi dan juga ada beberapa acara bakti social yang memang belum bisa diwujudkan di masa pandemi ini,” ungkapnya.

Dalam waktu terpisah, Humas Spirit 88-84 Yulvey, turut memberikan keterangan bagaimana kegiatan Donasi yang dilakukan berhasil terkumpul dana lebih dari Rp. 200 Juta. Seluruh dana ini diserahkan kepada Bapak Wakidi, melalui transfer bank dan Donasi secara langsung.

“Kejadian kebakaran dan salah satu guru kita menjadi korban, akhirnya rutin kami meeting dan koordinasi dengan angkatan lain yang dikoordinasikan melalui lintas angkatan melalui Ketua Osis Angkatan 84 Rita Agustina, akhirnya terkumpul dana Rp.200 juta lebih dan dari angkatan 88 spirit menyumbang Rp. 22 juta,” ungkapnya.

Lebih jauh Yulvey, mengungkapkan bagaimana dalam setiap kegiatan Spirit 88-84 yang digagas, para guru sangat antusias turut hadir, walaupun ditengah kondisi yang sudah sepuh.

“Harapan kami untuk ke depannya selain di lingkungan 84 (alumnus angkatan-red) juga kita ingin angkatan lain atau mungkin seluruh SMP DKI di wilayah Jakarta Barat itu bisa memberikan edukasi kepada generasi muda dan juga menggalakkan bakti social. Ini akan regenerasi nantinya,” ungkapnya.

Beri Donasi Kepada Dapur Umum

Di tengah pelaksanaan penyerahan Donasi kepada Guru, dalam kesempatan ini juga Dr. Etty secara pribadi dan pihak keluarga memberikan Donasi secara langsung kepada pihak Dapur Umum, dalam pengadaan asupan makanan yang memang rutin dilakukan di tengah kondisi sulit bagi para korban.

“Untuk dapur umum, sangat perlu diapreasi tanggung jawab para ibu-ibu PKK dan wanita-wanita Karang Taruna. Untuk itu kami memberikan apresiasi secara sukarela untuk memberikan asupan makanan ke korban bencana. Sebagai muslim kita bersaudara. Sebagai warga kita wajib saling bantu. Kalau buka kita yang bantu siapa lagi. Selalu mulai dari yang kecil untuk menghasilkan yang besar. Yakin Indonesia sehat, Indonesia kuat, Indonesia jaya,” pungkasnya.

Seperti diketahui, pedagang yang terdampak mencapai 114 pedagang, kemudian ada 10 KK dari 10 ruko di dua RT yang terbakar. Sebanyak 25 unit dampakr diturunkan untuk memdamkan api kala itu, yang telah meludeskan bangunan yang ada.

Categories
Berita

Peduli di Masa Pandemi, Direktur JTE Kurban Bersama Korporasi

indopos.co.id – Bukan hal kebetulan, di tahun 2020 ini Idul Adha masuk dalam masa pandemi Covid-19. Di mana, masa ini telah menghancurkan sendi-sendi perekonomian masyarakat. Tentu saja berkurban akan sangat dibutuhkan masyarakat, di tengah sulitnya pengadaan lauk pauk walaupun makanan pokok telah diberikan pemerintah.

Direktur Utama Jasa Tirta Energi (JTE), Etty Susilowati dalam menjalankan ibadah kurban di tahun ini, turut menyembelih hewan kurban di mana daging dari hewan yang disembelih, diperuntukkan bagi masyarakat yang tidak mampu di sekitar kediaman dan perusahaan.

Hewan sapi yang dijadikan kurban disembelih dikediamannya di wilayah Tangerang Selatan dan di kantor JTE PLTMH Lodagung Blitar yang selanjutnya diberikan kepada masyarakat sekitar.

Etty, mengatakan masa pandemi merupakan masa sulit bagi siapapun. Menjadi panggilan saat Iedul Adha jatuh di masa pandemi saat ini untuk turut menjalankan ibadah seperti yang dicontohkan oleh Nabi Besar Ibrahim AS.

“Masyarakat banyak yang merasakan kesulitan. Bukan hanya dalam bidang usaha, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya pun banyak yang merasa kesulitan. Untuk itu, kegiatan berkurban di Iedul Adha ini menjadi amat penting. Selain mengikuti ajaran Nabi, kurban saat ini turut membantu pemerintah dalam pengadaan lauk pquk bagi masyarakat,” terang Etty, saat dihubungi.

Dia menambahkan, saat negara memberikan Bantuan Sosial bukan berarti seluruh kebutuhan hidup masyarakat sudah terpenuhi. Menjadi tanggung jawab bersama, untuk saling bahu membahu memberikan bantuan di tengah kesulitan yang ada di tengah kondisi saat ini.

“Bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja. Ini tanggung jawab kita semua agar dapat melewati kondisi saat ini. Sebagai bagian dari perusahaan Plat Merah, kami turut mendukung program-program pemerintah dalam membantu masyarakat di tengah pandemi. Apa yang bisa kami lakukan, tentunya kami berharap menjadi manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (mdo)

Categories
Berita

Energi Indonesia Melimpah, Kenapa Harus Mahal ?

Oleh : DR.Etty Susilowati, SE. MM

Direktur Utama PT Jasa Tirta Energi

RuangJurnalis.com – Satu dua bulan yang lalu, masyarakat digemparkan dengan tagihan listrik yang cukup signifikan. Bagaimana tidak ? Tagihan yang harus dibayarkan oleh para pelanggan nilainya cukup pantastis. Kenaikan yang terjadi bisa mencapai puluhan juta rupiah bagi setiap pelanggan. Menjadi tanda Tanya besar di tengah melimpahnya energy alam yang dimiliki oleh Indonesia, harus dibayar mahal oleh masyarakatnya sendiri. Dari Sabang sampai Merauke, Tuhan Yang Maha Esa, telah memberikan Indonesia beragam kebutuhan yang ada di Alam.

Alih-alih merugi hingga triliunan rupiah, Covid-19 menjadi sasaran atas meruginya PLN yang diketahui menjadi salah satu penyedia energy yang dipahami sebagai energy listrik oleh masyarakat luas. Tak tanggung-tanggung kerugian yang diklaim oleh PLN, sekitar Rp 38 Triliun PLN harus menanggung kerugian, hal ini diungkapkan saat rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI beberapa waktu yang lalu.

Luasnya potensi energy di Nusantara seharusnya energy bukanlah menjadi permasalahan yang rumit. Penampakan permukaan alam Indonesia yang terdiri diri perairan dan daratan berbanding antara 4:1. Penampakan daratan berupa gunung tertinggi, sungai terpanjang di Indonesia, danau membuat Indonesia menjadi negara ke 15 terluas di dunia. Indonesia termasuk negara kepulauan yang berada pada posisi strategis yang digambarkan dari letak geografis dan letak astronomis Indonesia.

Robert Kaplan menuturkan bahwa geografi secara luas akan menjadi determinan yang mempengaruhi berbagai peristiwa lebih dari pada yang pernah terjadi sebelumnya (Foreign Policy, May/June, 09). Di masa yang akan datang, keberadaan Indonesia akan dipengaruhi oleh kondisi dan letak geografisnya. Maka tata kelola sumber daya alam, wilayah perbatasan dan pertahanan yang mumpuni sangat diperlukan.

Dengan beragamnya Sumber daya alam yang ada, seperti Sungai, Laut, Angin dan Matahari, Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk mengembangkan sektor energy khususnya bagi masyarakatnya sendiri. Bahkan, Kalimantan yang digadang-gadang sebagai ibukota baru memiliki potensi energy yang cukup besar. Pulau Kalimantan memiliki luas 743.330 km², dengan titik koordinat 4° 24` LU – 4° 10` LS dan antara 108° 30` BT – 119° 00` BT. Dimana keadaan alamnya meliputi Laut, Pantai Biduk-Biduk, Pantai Angsana, Pantai Melawai, Pantai Benua Putra dan pantai Pantai Lamaru, dilengkapi oleh sungai-sungai antara lain, Sungai Mahakam, Sungai Barito, Sungai Kapuas, Sungai Melawi, dan Sungai Arut.

Indonesia memiliki Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar diantaranya, mini/micro hydro sebesar 450 MW, Biomass 50 GW, energi surya 4,80 kWh/m2/hari, energi angin 3-6 m/det dan energi nuklir 3 GW. Di mana, saat ini pengembangan EBT mengacu kepada Perpres No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Dalam Perpres disebutkan kontribusi EBT dalam bauran energi primer nasional pada tahun 2025 adalah sebesar 17% dengan komposisi Bahan Bakar Nabati sebesar 5%, Panas Bumi 5%, Biomasa, Nuklir, Air, Surya, dan Angin 5%, serta batubara yang dicairkan sebesar 2%. Untuk itu langkah-langkah yang akan diambil Pemerintah adalah menambah kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Mikro Hidro menjadi 2,846 MW pada tahun 2025, kapasitas terpasang Biomasa 180 MW pada tahun 2020, kapasitas terpasang angin (PLT Bayu) sebesar 0,97 GW pada tahun 2025, surya 0,87 GW pada tahun 2024, dan nuklir 4,2 GW pada tahun 2024.

Demi mendayagunakan energy yang dimiliki oleh alam Indonesia, tentu saja kerjasama dapat dilakukan dengan Pemerintah Daerah untuk mempermudah tanggung jawab pengelolaannya. Bagi pemerintah daerah keuntungan yang dapat dikelola dan bisa dikembangkan antara lain, Biomasa, Energi Angin, Energi Surya, Energi Nuklir dan Mikrohidro.

Dapat dibayangkan Total investasi yang diserap pengembangan EBT sampai tahun 2025 diproyeksikan sebesar 13,197 juta USD. Dimana, Keuntungan Energi Baru Terbarukan ini adalah Ramah lingkungan, Investigasi teknologi, Mudah dikembangkan, Mengurangi sampah dan yang lebih penting akan meningkatkan peluang tenaga kerja baru, tentu saja hal ini akan sangat berdampak khususnya daerah-daerah berkembang.

Namun, bukan tanpa kendala, penerapan energy terbarukan terbentur kepada regulasi yang dinilai kerap berubah-ubah menjadi tantangan pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia. Padahal, jika kita ingin tilik lebih dalam memiliki keuntungan yang cukup banyak, khususnya bagi Pemerintah Daerah yaitu : Meningkatkan perkenomian daerah, Meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan Meningkatkan akses energi kepada masyarakat langsung.

Pemerintah terus berupaya melaksanakan percepatan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) agar dapat mencapai target 23% energi baru terbarukan (EBT) pada bauran energi nasional tahun 2025 sebagaimana amanat Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

Strategi percepatan pengembangan EBT untuk mencapai target ambisius pada tahun 2025 yang dilakukan pemerintah, yaitu:

  • Mendorong peningkatan kapasitas unit-unit PLT EBT yang sudah ada dan proyek EBTKE yang sedang berjalan sesuai RUPTL.
  • Upaya penciptaan pasar EBT. Untuk pengembangan panas bumi, diupayakan pengembangan Flores GEothermal Island, sinergi BUMN untuk percepatan pengembangan panas bumi di Wilayah Kerja BUMN, dan pengembangan klaster ekonomi berbasis sumber daya setempat dengan pembangkit listrik. Untuk pengembangan PLTA, diupayakan pengembangan proyek PLTA/M/MH utuk klaster industri mineral dan pengembangan PLTMH melalui pemanfaatan berbagai bendungan.

Sementara itu, untuk pengembangan PLTS dilakukan sinergi BUMN dan pembangunan daerah, pengembangan klaster PLTS/PLT Hybrid untuk ekonomi berbasis sumber daya setempat, pengembangan green dan smart commercial building, pengembangan. PLTS di lahan-lahan pertanian dan perikanan, serta pengembangan ecotourism. Untuk pengembangan BBN, dilaksanakan Mandatori B20 dan B30 serta pengembangan Green Biofuel baik Pertamina maupun non Pertamina. Untuk pengembangan bioenergi, berbagai upaya penciptaan pasar yang dilaksanakan Pemerintah, antaralain:

  1. Melakukan konversi PLTD eksisting menjadi PLTBn CPO;
  2. Mendorong pembangkit Captive Power untuk menjual kelebihan listrik pada PT. PLN (persero) dengan skema Excess Power;
  3. Melakukan Co-firing dengan pelet Biomassa pada exsisting PLTU;
  4. Pengembangan PLT Biomassa skala kecil untuk Wilayah Indonesia Timur secara masif;
  5. Pengembangan hutan tanaman energi dan pemanfaatan lahan-lahan sub optimal untuk biomassa melalui kerjasama dengan KLHK, K/L terkait dan Pemda; dan
  6. Mendorong penggunaan limbah agro industri untuk pembangkit listrik;
  7. Mendorong pengembangan PLTSa.

Saat ini Pemerintah dan para pelaku di tanah air memiliki kendala yang perlu dipecahkan bersama dalam  pengembangan EBT di Indonesia. Pertama, kendala yang dihadapi factor lahan, karena sumber energy baru membutuhkan tempat yang luas, kesulitan akses pada teknologi, harga keekonomian di tambah regulasi yang berubah-ubah. Di Indonesia kebutuhan energy masih harus dikembangkan karena ada beberapa daerah yang belum tersuplai energy seperti energy listrik. Untuk itu, PT. JTE berharap bisa ikut serta dalam meningkatkan energy khususnya di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT).

Categories
Berita

Merenda Potensi Energi Tanah Air

Jakarta, BisnisKita.id – Satu dua bulan yang lalu, masyarakat digemparkan dengan tagihan listrik yang cukup signifikan. Bagaimana tidak ? Tagihan yang harus dibayarkan oleh para pelanggan nilai cukup pantastis. Kenaikan yang terjadi bisa mencapai puluhan juta rupiah bagi setiap pelanggan. Menjadi tanda Tanya besar di tengah melimpahnya energy alam yang dimiliki oleh Indonesia, harus dibayar mahal oleh masyarakatnya sendiri. Dari Sabang sampai Merauke, Tuhan Yang Maha Esa, telah memberikan Indonesia beragam kebutuhan yang ada di Alam.

Alih-alih merugi hingga triliunan rupiah, Covid-19 menjadi sasaran atas meruginya PLN yang diketahui menjadi salah satu penyedia energy yang dipahami sebagai energy listrik oleh masyarakat luas. Tak tanggung-tanggung kerugian yang diklaim oleh PLN, sekitar Rp 38 Triliun PLN harus menanggung kerugian, hal ini diungkapkan saat rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI beberapa waktu yang lalu.

Luasnya potensi energy di Nusantara seharusnya energy bukanlah menjadi permasalahan yang rumit. Penampakan permukaan alam Indonesia yang terdiri diri perairan dan daratan berbanding antara 4:1. Penampakan daratan berupa gunung tertinggi, sungai terpanjang di Indonesia, danau membuat Indonesia menjadi negara ke 15 terluas di dunia. Indonesia termasuk negara kepulauan yang berada pada posisi strategis yang digambarkan dari letak geografis dan letak astronomis Indonesia.

Robert Kaplan menuturkan bahwa geografi secara luas akan menjadi determinan yang mempengaruhi berbagai peristiwa lebih dari pada yang pernah terjadi sebelumnya (Foreign Policy, May/June, 09). Di masa yang akan datang, keberadaan Indonesia akan dipengaruhi oleh kondisi dan letak geografisnya. Maka tata kelola sumber daya alam, wilayah perbatasan dan pertahanan yang mumpuni sangat diperlukan.

Dengan beragamnya Sumber daya alam yang ada, seperti Sungai, Laut, Angin dan Matahari, Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk mengembangkan sektor energy khususnya bagi masyarakatnya sendiri. Bahkan, Kalimantan yang digadang-gadang sebagai ibukota baru memiliki potensi energy yang cukup besar. Pulau Kalimantan memiliki luas 743.330 km², dengan titik koordinat 4° 24` LU – 4° 10` LS dan antara 108° 30` BT – 119° 00` BT. Dimana keadaan alamnya meliputi Laut, Pantai Biduk-Biduk, Pantai Angsana, Pantai Melawai, Pantai Benua Putra dan pantai Pantai Lamaru, dilengkapi oleh sungai-sungai antara lain, Sungai Mahakam, Sungai Barito, Sungai Kapuas, Sungai Melawi, dan Sungai Arut.

Direktur Utama PT Jasa Tirta Energi DR.Etty Susilowati, SE. MM, mengatakan Indonesia memiliki Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar diantaranya, mini/micro hydro sebesar 450 MW, Biomass 50 GW, energi surya 4,80 kWh/m2/hari, energi angin 3-6 m/det dan energi nuklir 3 GW.

“Saat ini pengembangan EBT mengacu kepada Perpres No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Dalam Perpres disebutkan kontribusi EBT dalam bauran energi primer nasional pada tahun 2025 adalah sebesar 17% dengan komposisi Bahan Bakar Nabati sebesar 5%, Panas Bumi 5%, Biomasa, Nuklir, Air, Surya, dan Angin 5%, serta batubara yang dicairkan sebesar 2%. Untuk itu langkah-langkah yang akan diambil Pemerintah adalah menambah kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Mikro Hidro menjadi 2,846 MW pada tahun 2025, kapasitas terpasang Biomasa 180 MW pada tahun 2020, kapasitas terpasang angin (PLT Bayu) sebesar 0,97 GW pada tahun 2025, surya 0,87 GW pada tahun 2024, dan nuklir 4,2 GW pada tahun 2024,” paparnya saat dihubungi, beberapa waktu lalu.

Untuk potensi yang bisa dikembangkan antara lain Biomasa, Energi Angin, Energi Surya, Energi Nuklir, Mikrohidro. “Total investasi yang diserap pengembangan EBT sampai tahun 2025 diproyeksikan sebesar 13,197 juta USD, dengan keuntungan Energi Baru Terbarukan Ramah lingkungan, Investigasi teknologi, Mudah dikembangkan, Mengurangi sampah serta Peluang lapangan kerja,” ungkapnya.

Pemerintah terus berupaya melaksanakan percepatan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) agar dapat mencapai target 23% energi baru terbarukan (EBT) pada bauran energi nasional tahun 2025 sebagaimana amanat Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

Strategi percepatan pengembangan EBT untuk mencapai target ambisius pada tahun 2025 yaitu :

  • Mendorong peningkatan kapasitas unit-unit PLT EBT yang sudah ada dan proyek EBTKE yang sedang berjalan sesuai RUPTL.
  • Upaya penciptaan pasar EBT. Untuk pengembangan panas bumi, diupayakan pengembangan Flores GEothermal Island, sinergi BUMN untuk percepatan pengembangan panas bumi di Wilayah Kerja BUMN, dan pengembangan klaster ekonomi berbasis sumber daya setempat dengan pembangkit listrik. Untuk pengembangan PLTA, diupayakan pengembangan proyek PLTA/M/MH utuk klaster industri mineral dan pengembangan PLTMH melalui pemanfaatan berbagai bendungan. Sementara itu, untuk pengembangan PLTS dilakukan sinergi BUMN dan pembangunan daerah, pengembangan klaster PLTS/PLT Hybrid untuk ekonomi berbasis sumber daya setempat, pengembangan greendan smart commercial building, pengembangan PLTS di lahan-lahan pertanian dan perikanan, serta pengembangan ecotourism. Untuk pengembangan BBN, dilaksanakan Mandatori B20 dan B30 serta pengembangan Green Biofuel baik Pertamina maupun non Pertamina. Untuk pengembangan bioenergi, berbagai upaya penciptaan pasar yang dilaksanakan Pemerintah, antaralain:
  1. Melakukan konversi PLTD eksisting menjadi PLTBn CPO;
  2. Mendorong pembangkit Captive Power untuk menjual kelebihan listrik pada PT. PLN (persero) dengan skema Excess Power;
  3. Melakukan Co-firing dengan pelet Biomassa pada exsisting PLTU;
  4. Pengembangan PLT Biomassa skala kecil untuk Wilayah Indonesia Timur secara masif;
  5. Pengembangan hutan tanaman energi dan pemanfaatan lahan-lahan sub optimal untuk biomassa melalui kerjasama dengan KLHK, K/L terkait dan Pemda; dan
  6. Mendorong penggunaan limbah agro industri untuk pembangkit listrik;
  7. Mendorong pengembangan PLTSa.

“Di Indonesia kebutuhan energy masih harus dikembangkan karena ada beberapa daerah yang belum tersuplai energy seperti energy listrik. PT. JTE berharap bisa ikut serta dalam meningkatkan energy khususnya di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT),” pungkasnya.